KISAH

ALBERT+ ELIZABETH | CERITA MEREKA

” The meeting “

Ketika itu saya meminta teman saya untuk mencarikan model untuk portofolio Instagram saya. Ya, saya baru memulai belajar fotografi dan membutuhkan model untuk modal porto saya. Lalu teman saya mengenalkan kepada Elizabeth dimana Elizabeth merupakan saudara sepupu dari teman saya tersebut. Karena pada saat itu kami terpisah jarak, saya di Jakarta dan Elizabeth di Bandung, maka kami berkomunikasi mengenai rencana foto shoot tersebut dengan menggunakan media chatting.

Tibalah hari dimana saya untuk pertama kali nya bertemu dengan Elizabeth yang akan menjadi model foto saya. Setelah di makeup oleh MUA yang saya bawa dari Jakarta, kami pun berangkat ke lokasi foto. Diperjalanan kami berbincang bincang untuk mencairkan suasana dan membuat nyaman antara model dan fotografer sehingga ketika foto dilakukan tidak kaku lagi.

Elizabeth termasuk individu yang mudah berbaur, acara foto berlangsung lancardan kami mulai bisa bercanda untuk mencairkan suasana di tengah acara foto shoot. Sering terlontar kata kata usil dari teman saya yang menjurus untuk mejodohkan saya dengan Elizabeth. Tidak hanya teman saya, tim fotografer maupun MUA juga ikut mengejek untuk menjodohkan kami. Namun saat itu saya merasa hanya bercandaan biasa.

Fotoshoot pun berakhir pada sore hari dan kami berpisah untuk melanjutkan aktifitas masing masing. Esok harinya pada hari minggu ketika kami akan pulang ke Jakarta, saya berinisiatif untuk mengajak Elizabeth makan siang bersama tim sebagai tanda perpisahan. Di acara makan, kembali kami dijodohkan oleh teman teman kami, namun lagi lagi saya hanya menganggap itu sebagai gurauan belaka. Dan kami pun berpisah kembali setalah makan siang tersebut.

1St Chapter

Ketika saya mulai edit foto hasil fotoshoot dengan Elizabeth, saya mulai memikirkan gurauan dari teman teman untuk menjodohkan saya. Namun lagi lagi saya mengurungkan niat, karena apabila dilihat dari segi jarak, kami terpisah 180 km, jarak yang cukup jauh untuk menjalin hubungan (LDR). Teman saya yang merupakan saudara Elizabeth mulai menanyakan mengenai Elizabeth, dan akhirnya saya menceritakan bahwa saya mulai tertarik dengan Elizabeth. Sebagai lelaki saya tidak munafik untuk mengakui bahwa yang saya lihat pertama pastilah rupa. Teman saya pun mendukung apa bila saya ingin mendekati Elizabeth. Namun lagi lagi saya merasa tidak yakin apabila saya mendekati Elizabeth yang memiliki rupa menawan, mungkin saja standard pasangan dia harus setara dengan dia.

Fotohasil edit pun selesai dan saya mengirim hasil foto nya kepada Elizabeth, sama seperti model lain, reaksi Elizabeth pun sama. Dia merasa senang dengan hasil edit foto saya dan mengupload ke Instagram.

Disitu saya mulai memberanikan diri untuk mulai mengobrol dengan Elizabeth melalui chat. Dan diluar dugaan, respon yang diberikan sangat baik. Dia membalas chat saya dan kami bisa mengobrol panjang lebar. Obrolan kami tidak pernah kehabisan topik walaupun apabila malam hari sering kali saya ditinggal tidur. Namun pagi paginya dia akan membalas chat semalam dan kami pun melanjutkan obrolan kami.

2nd Chapter

Dari reaksi tersebut saya merasa ada yang berbeda dengan Elizabeth, dan akhirnya saya memutuskan untuk mulai mendekati Elizabeth. Ketika saya kembali ke Bandung untuk bertemu dengan Elizabeth, teman saya sudah mengatur pertemuan kami sehingga kami bisa pergi bersama. Dari pertemuan kami itu saya mulai merasakan ada rasa terhadap Elizabeth dan saya yakin untuk mendekati dia.

Mulai dari karoke dan makan bersama menjadi salah satu cerita kami ketika masa PDKT. Walaupun tidak berdua, karena saya rasa masih agak canggung untuk mengajaknya langsung berdua, namun Elizabeth selalu meluangkan momen untuk mengobrol berdua di tengah pertemuan itu yang memancing reaksi dari teman teman saya untuk semakin menjodohkan kami.

Pada hari terakhir saya di bandung, setelah nongkrong bersama dengan teman teman, saya mengantar Elizabeth kerumahnya. Saat itu kami hanya berdua karena teman teman saya yang lain sudah bawa kendaraan masing masing. Di depan rumah Elizabeth saya berpamitan karena besoknya saya harus dinas keluar pulau.

3rdChapter

Setelah pertemuan terakhir, kami terus berkomunikasi dan ketika saya pulang ke Bandung, saya selalu menyempatkan diri untuk pergi berdua dengan Elizabeth. Saat itu saya lebih berani untuk mengajak dia karena komunikasi kami yang sudah mulai lancar walaupun berbeda kota.

Tibalah hari dimana saya membuat keputusan untuk menanyakan Elizabeth untuk menjadi pacar saya. 7 oktober 2016 menjadi tanggal pertama kami sebagai sepasang kekasih. Saya menanyakan masalah jarak bandung Jakarta dalam menjalani hubungan ini. Dan dia menjawab dengan yakin bahwa semuanya akan berjalan dengan baik asal kita saling percaya dan menjaga kepercayaan.

Hanya 3 bulan setelah kami jadian, saya merasa bahwa dia merupakan calon pendamping saya di hari tua nanti. Saya menanyakan Elizabeth apakah dia mau menjadi pendamping saya hingga tua nanti, dan dia pun meng-iya-kan pertanyaan saya. Kami pun sepakat untuk bertemu orang tua kami untuk meminta ijin mengenai hal ini. Orang tua saya yang sudah kenal dengan Elizabeth, maupun orang tua Elizabeth memberikan ijin kepada kami untuk melanjutkan kejenjang yang lebih serius.

18 Februari 2017, Elizabeth resmi saya lamar untuk menjadi pasangan hidup saya. Kedua keluarga bertemu di restoran hongsin, braga, Bandung untuk acara lamaran ini. Dan mulai malam itu, Elizabeth resmi menjadi calon istri saya.

4thChapter

Kami pun mulai merencanakan hari bahagia kami. Di awali dengan memilih tanggal ya itu tanggal 18-08- 18, sebuah tanggal cantik yang dipillih Elizabeth untuk hari bahagia kita. Namun Tuhan berkehendak lain, pada tanggal tersebut, venue yang kami idam idamkan sudah di booking oleh orang lain. Kamipun memutuskan mengganti tanggal pernikahan kami. Dan 7 – 7-18 merupakan tanggal bahagia yang sudah kami putuskan untuk menjadi hari dimana kami resmi menjadi sepasang suami istri.